Category Archives: Piala Dunia

De Bruyne Pertanyakan Taktik Timnas Belgia

Kevin de Bruyne nampak tak bisa menahan diri dengan berani mengkritik gaya kepelatihan Roberto Martinez di timnas Belgia. Menurut pandangan sang pemain, Martinez salah menerapkan taktik untuk Belgia ketika hanya mampu bermain imbang 3-3 kontra Meksiko akhir pekan kemarin.

Belgia yang suskes memecahkan rekor kemenangan enam beruntun terpaksa ditahan sementara usai bermain imbang melawan Tricolore di laga uji coba. Besar harapan dari banyak pihak jika skuat Belgia yang diperkuat pemain bintang macam De Bruyne, Eden Hazard, Romelu Lukaku, Dries Mertens, Jan Vertonghen, dan Thibaut Courtois bisa menjadi juara Piala Dunia 2018.

Namun begitu, Belgia yang kemarin bermain dianggap jauh dari performa terbaiknya. Dalam laga persiapan awal, mereka terkesan santai dan tidak ada gairah untuk meraih kemenangan. Lantas situasi ini telah membuat De Bryune merasa kecewa dan menganggap taktik yang diterapkan Martinez masih belum maksimal.

“Dengan Meksiko bermain sangat baik, maka lima bek kami harus bermain lebih ke dalam dan kami kesulitan di tengah, itu seperti memperlihatkan lima pemain melawan tujuh pemain. Dengar, kami masih terlalu banyak mengandalkan talenta. Selama kami tak punya taktik yang bagus, kami akan kesulitan menghadapi tim seperti Meksiko. Sangat disayangkan kemarin kami tidak memiliki jalan keluar,” ucap De Bryune.

“Benar saja, kami bermain sangat bertahan, namun kami punya banyak pemain ofensif yang senang menguasai bola. Kemudian ada masalah, seperti ketika melawan Meksiko. Kami senang menguasai bola, namun taktik yang kami mainkan tidak pas,”

“Sampai pada akhirnya, semua keputusan ada ditangan Martinez. Saya kira sang pelatih harus menemukan solusi agar kami bisa keluar dari situasi ketika melawan Meksiko.” tutupnya.

Belgia sendiri menjadi satu yang diunggulkan bisa membuat kejutan dipentas Piala Dunia 2018 mendatang. Sempat menduduki puncak klasemen tim terbaik versi FIFA, maka sangatlah wajar jika Hazard dan kawan-kawan akan mampu bersaing dengan Brasil, Argentina dan Inggris sebagai calon kuat pengangkat Piala Dunia bulan Juni 2018 mendatang.

Toure Cemaskan Angin Pengumbar Kebencian di Piala Dunia Rusia

Gelandang kawakan Manchester City, Yaya Toure sangat antusias menyambut pargelaran Piala Dunia 2018 Rusia. Namun sang gelandang tak menapik kecemasan begitu besar atas angin pengumbar kebencian atau biasa disebut tindakan rasis sepanjang pergelaran berlangsung.

Yaya sendiri sempat menyampaikan apa yang sudah pernah dia alami ketika berkunjung ke Rusia, satu momen Manchester City berkesempatan bertandang ke markas, CSKA Moscow dilanjutan pertandingan Liga Champions.

Dan hal yang membuatnya terkejut adalah tindakan para fans tuan rumah yang tidak memberikan sambutan hangat kepada Manchester City terlebih khusus pada Yaya yang terus menerus mendapat respon rasisme. Pada akhirnya, FIFA menindak tegas perlakuan itu dengan memberikan hukuman kepada CSKA Moscow.

Atas pengalaman dan kejadian yang pernah dialami Yaya, maka dia memberikan sinyal tegas kepada FIFA untuk bisa menindak tegas dan mengilangkan para pembuat isu rasisme sebelum pertandingan didalam maupun diluar lapangan.

“Saya sebagai pemain yang pernah mengalami hal rasisme, karena saya menjadi korban saat itu. Saya mencoba terlibat dan ingin membantu mereka yang tak punya suara dalam situasi ini,” ucap Yaya kepada media.

“Menurut saya, ketika seseorang memberikan bantuan terhadap bocah afrika dari tindakan rasisme maka itu adalah sebuah rahmat. Kami akan coba untuk menghentikan semua idiot itu melakukan hal seperti ini. Kami harus tetap menyuarakan sikap fair play,”

“Andai semua ini terus terjadi, maka akan terjadi kekacauan. Semua orang berbicara itu akan sulit di Rusia. Akan tetapi, kami berharap kepada Rusia bisa memberikan kami kejutan dan bersikap sebagaimana mestinya,”

“Saya pernah menjalani pertandingan di Ukraina dan Rusia sebelum pindah ke tempat lain di Eropa. Ketika saya berada disana, saya bisa bahasa Rusia dengan baik.” tutu Yaya.

Kaka Pensiun di Akhir Musim MLS?

Mantan pemain AC Milan, Kaka sudah memastikan kapan dan dimana akan mengakhiri karirnya sebagai pemain sepakbola profesional. Kabar pensiun nya Kaka sebenarnya sudah lama terdengar, dimana kabar yang paling besar terjadi adalah waktu dimana Andra Pirlo lebih dulu memutuskan gantung sepatu.

Keputusan Pirlo selaku rekan setim Kaka di Milan tersebut telah membuka mata Kaka untuk memikirkan masa depannya diluar sepakbola. Sampai pada akhirnya, Kaka angkat suara dengan menyebut akan meninggalkan Orlando City begitu MLS musim 2017 berakhir.

Meski sudah memastikan hal itu, namun Kaka tak menyebutkan kemana dan apa yang akan dia lakukan setelah semuanya berakhir. Sepanjang karirnya di MLS, kontrak Kaka memang akan segera berakhir dan sudah memikirkan matang-matang kapan waktu tepat dia pensiun.

“Semua sudah mengetahui jika kontrak saya akan berakhir di Orlando City tahun ini. Saya memutuskan untuk tidak memperpanjang, ini menjadi pilihan sulit dan saya harus siap,”

“Keputusan saya diambil bukan karena kondisi fisik. Saya akan terus menghormati jersey ini.” demikian pernyataan singkat Kaka dalam sebuah acara jumpa pers di Amerika Serikat.

Bisa diartikan dalam pernyataan Kaka bahwa dia belum bisa memastikan apakah gantung sepatu diakhir musim 2017 atau ingin kembali ke kampung halaman sebagaimana mimpinya mengakhiri karir di Sao Paulo. Penutupan masa karir Kaka jelas akan menyisahkan kenangan indah, dimana pencapaian tertinggi Kaka adalah meraih gelar individu Ballon d’Or 2004.

Dilain sisi, melihat gelar bersama klub. Kaka sudah banyak mendapatkannya di AC Milan dan Real Madrid. Dimana sudah bermain di tiga Piala Dunia, juara di 2002 dan juga memenangkan gelar Liga Champions, Serie A Italia dan La Liga Spanyol.

Inilah Jawaban Ramos Soal Isu Gesekan dengan Pique

Menjabat sebagai kapten tim, Sergio Ramos menunjukan rasa kepercayaan diri tinggi bahwa Spanyol akan tetap solid menghadapi dua sisa pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Eropa Grup D.

Terlepas dari hal tersebut, Ramos juga mendukung Gerard Pique dengan mengatakan hubungan mereka berdua baik-baik saja. Jelang pertandingan melawan Albania malam nanti, bek Real Madrid berbicara soal pekan sulit di negaranya, menyusul kekerasan yang terjadi dalam referendum kemerdekaan Catalan akhir pekan kemarin.

Dengan menegaskan sepakbola dan politik tidak boleh dicampuradukkan, Ramos berharap timnya bisa terus solid sebagaimana target Spanyol yang utama adalah lolos ke putaran final Piala Dunia 2018 Rusia.

Untuk sementara ini, Spanyol masih menduduki posisi puncak klasemen dengan keunggulan tiga poin dari Italia yang berada diposisi runner up. Dan dipekan terakhirnya, Spanyol akan terbang ke markas Israel dalam laga penentu apakah mereka lolos langsung atau menjalani babak play off pada bulan November mendatang.

“Tidak benar ketika mencampuradukkan politik dan olahraga. Malam ini kami harus fokus ke Albania. Kami semua solid dan siap mengambil langkah maju menuju Piala Dunia. Itu akan menjadi Piala Dunia ke-4 saya dan bangga bisa berada diposisi ini,” ucap Ramos kepada media.

Kabar panas lantas menerjang Ramos dan juga Pique, kabar ini muncul ketika Pique menunjukan tweet dukungan untuk kemerdekaan Catalan dalam akun pribadinya. Alhasil, pekan-pekan latihan Spanyol selalu mendapat ejekan dan tekanan dari fans.

Mendengar kabar tersebut, Ramos angkat bicara dan menegaskan jika hubungan mereka berdua baik-baik saja. “Kami punya hubungan yang baik meski kami punya pemikiran yang berbeda. Seharusnya tidak ada masalah yang harus diselesaikan, karena kami baik-baik saja.”

Hukuman Messi Dianggap Terlalu dan Tak Sesuai

Lionel Messi menerima skorsing berupa absen di 4 laga sebeb dinilai telah lakukan pelecehan kepada ofisial laga. Hukuman yang diberikan kepada kapten tim nasional Argentina tersebut dianggap tidak masuk di akal dan terlalu sulit.

FIFA berikan hukuman dengan melarang ikut tampil di lapangan sampai dengan 4 pertandingan untuk Messi usai belajar dari rekaman video laga antara Argentina melawan Chile di laga kualifikasi Piala Dunia 2018. Pada video rekaman itu, Messi terlihat meneriaki hakim garis Marcelo Van Gasse sampil perlihatkan gestur yang tidak puas setelah ia dinilai melakukan sebuah pelanggaran. Pemain penyerang Barcelona tersebut pun tidak ingin bersalaman dengan Van Gasse usai pertandingan berakhir.

Hukuman yang diterima Messi adalah sebuah pukulan besar bagi tim nasional Argentina, yang tengah berusaha untuk bisa masuk ke partai final Piala Dunia 2018. Kalau usaha untuk banding tidak sukses, Messi bakal menepi di pertandingan menghadapi Bolivia, Uruguay, Venezuela, dan Peru. Ia baru dapat kembali tampil di pertanidngan terakhir kualifikasi berhadapan dengan Ekuador di bulan Oktober yang akan datang.

Bekas pelatih tim nasional Argentina, Cesar Luis Menotti, menganggap kalau hukuman tersebut amat sulit. Menotti bedakan pelanggaran itu dengan sejumlah pelanggaran lain yang lebih serius namun pada akhirnya mendapat hukuman yang lebih ringan.

“Saya anggap 4 laga tidak masuk di akal. Apakah yang telah dilakukan oleh Messi tidak separah itu,” ujar Menotti.

“Ada sejumlah perbuatan yang memiliki tujuan yang membuat sakit dan terkadang mereka hanya berikan hukuman dengan 2 laga,” kata dia.

“Ini merupakan sesuatu yang memiliki sifat verbal. Hukuman yang diterima terlalu berlebihan,” imbuh Menotti.

Lallana Memuji Performa Defoe

Jermaine Defoe tunjukkan performa layaknya ketika masih berumur 25 tahun pada pertandingan melawan Lithuania. Adam Lallana memuji pemain stiker gaek tersebut lewat angka yang berhasil ia ciptakan.

Defoe sukses catatkan namanya di papan skor dalam dalam hasil positif dengan skor 2-0 yang diraih Inggris saat berhadapan dengan Lithuania pada hari Minggu (26/3/2017), lewat pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2018. Angka itu menjadi sebuah bukti nyata seberapa layaknya dia untuk bisa lanjut menggunakan kaos tim nasional, usai kali terakhir bermain di tahun 2013 melawan Chile.

Performa pemain yang berusia 34 tahun tersebut dapatkan sanjungan oleh Lallana. Pemain gelandang Liverpool tersebut seperti saksikan Defoe yang masih berumur 25 tahun.

“Rasanya seperti Anda tampil dengan Jermain Defoe yang masih berumur 25 tahun. Ayah saya sering kali menyeru saya untuk melihat Bournemouth (klub Defoe yang dulu) saat ia (Defoe) dengan hebatnya ciptakan angka pada 10 laga berturut-turut, maka untuk tampil bersama ia di Inggris terasa seperti sebuah mimpi saja,” imbuh Lallana yang baru kali bertama setim dengan pemain stiker Sunderland itu.

“Tetapi, ia merupakan Defoe yang terus Anda tahu. Anda pertaruhkan uang kalau ia bakal ciptakan angka, dan ia lakukan itu untuk menolong kami,” lanjut Lallana.

“Saya merasa kalau semua orang merasakan hal yang sama seperti itu, hal tersebut ialah Defoe yang Anda inginkan. Ia layak raih ini. Pada musim ini ia tampilkan performa paling okenya, ciptakan banyak angka ke gawang.”

“Ia ciptakan angka saat menghadapi Liverpool ketika bermain, jika tak salah ia ciptakan 2 angka. Saya merasa dirinya layak berada di tempat ini dan sudah perlihatkan siapa dirinya yang sebenarnya, apa yang dapat dia tunjukkan dan ia adalah pilihan untuk Rusia di tahun berikutnya,” kata dia.